Aneka Masakan Indonesia

Tampilkan postingan dengan label Syndrome dan Penyakit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syndrome dan Penyakit. Tampilkan semua postingan

Manfaat Menyusui Pada Bayi

Diposting oleh Unknown on 14 Sep 2012

Hamil dan melahirkan adalah proses yang alami bagi kaum perempuan. Dan kecuali pada orang-orang tertentu yang memang tak menghendakinya, kehamilan merupakan suatu anugrah Tuhan yang seyogyanya disyukuri. Untuk itu, demi menjaga anugerah Tuhan dan tidak berujung malapetaka, baik pada sang ibu maupun pada anak yang kelak dilahirkan, ada baiknya jika para ibu memiliki pengetahuan mengenai manfaat ASI agar kelak bayi yang disusui mendapat asupan nutrisi yang baik.

Pada usia kehamilan menginjak ke minggu 16, plasenta atau ari-ari akan terbentuk. Melalui plasenta inilah segala kebutuhan bayi akan disalurkan. Dan setelah bayi keluar dari kandungan, maka menyusui merupakan proses atau kegiatan yang fungsi utamanya adalah menggantikan tugas yang dulu dilakukan oleh plasenta, yakni, bertugas untuk memenuhi asupan nutrisi bagi tumbuh kembang sang bayi. Maka, dalam istilah kedokteran, proses menyusui ini sering juga disebut dengan istilah eksternal plasenta, karena semua proses yang dialami bayi terjadi di dalam kehamilan dilanjutkan setelah kelahiran melalui proses menyusui. Air susu ibu (ASI) dan menyusui adalah dua hal penting yang merupakan kelanjutan fungsi plasenta untuk memenuhi kebutuhan bayi untuk mendapat nutrisi (makanan) terbaik, dan perlindungan berupa zat-zat kekebalan di dalam ASI yang menghindarkan bayi kepada segala macam penyakit. Dua kebutuhan bayi tadi masih disempurnakan dengan fungsi lain yang tidak kalah pentingnya, yakni proses stimulasi yang terjadi selama proses menyusui.

Proses stimulasi atau rangsangan kepada bayi terutama yang menyangkut dengan kelima indera sang bayi pada saat menyusui sangat bermanfat bagi tumbuh kembang otak bayi. Kontak fisik antara ibu dengan bayinya pada saat menyusui yang melibatkan panca indera sang bayi seperti indera penciuman, pendengaran, penglihatan, kulit, dan pengecapan, terutama pada bulan-bulan pertama kelahiran, merupakan saat-saat paling sensitive terhadap rangsangan panca indera bayi dan otaknya. Bayi yang baru dilahirkan memiliki indera penciuman alami yang sangat baik, yang ia gunakan dan latih sejak masih dalam kandungan melalui proses “inisiasi menyusu dini”. Begitupun dengan indera pendengarannya. Indera pendengaran bayi sudah sempurna dan canggih jauh sebelum ia dilahirkan (bayi sudah bisa mendengar jauh sebelum dilahirkan, yakni pada usia kehamilan menginjak usia 20 minggu), memberi kesempatan bayi untuk mendengar napas, suara dan degup jantung ibu selama proses menyusui. Jadi mitos mengenai bayi belum bisa mendengar saat baru dilahirkan yang sering dikatakan oleh orang-orang tua kita dulu merupakan sebuah kesalahan. Sedangkan manfaat selama proses menyusui pada kulit bayi adalah untuk lebih mengoptimalkan kepekaan bayi melalui kulitnya. Kulit bayi di mana terdapat banyak reseptor “syaraf” akan menerima banyak rangsangan saat didekap selama menyusui.

Bagaimana dengan indera penglihatan bayi itu sendiri? Dapatkah bayi melihat ketika umurnya masih dalam hitungan hari sesaat setelah dilahirkan? Memang, penglihatan bayi belum berfungsi baik karena pada bayi yang baru lahir belum keluar kolostrumnya. Tapi, proses ini bisa dipercepat melalui menyusui. Kontak fisik “skin to skin” turut berperan mempercepat keluarnya kolostrum pada mata bayi untuk modal baginya melihat. Saat melakukan “skin to skin contact” dengan meletakkan bayi di dada ibu dalam waktu yang lama, mata bayi begitu terlihat nanar seolah melihat. Itulah yang kemudian ikut merangsang lebih cepat keluarnya kolostrum. Disamping itu, zat-zat yang terkandung di dalam ASI seperti DHA/AA juga juga turut menyempurnakan fungsi penglihatan bayi karena kandungan zat tersebut bersifat merangsang pertumbuhan syaraf otak dan mengoptimalkan fungsi penglihatan terutama pada retina mata.

Rasa yang berubah-ubah pada ASI yang bergantung pada makanan apa yang dikonsumsi sang ibu selama menyusui juga ikut melatih indera pengecapan sang bayi. Begitupun dengan kadang deras dan kadang surutnya ASI ikut juga berperan melatih bayi untuk berpikir cerdas dan mampu “mengatur strategi” tentang apa yang harus dilakukannya agar tak tersedak pada saat ASI yang keluar begitu bancar, dan menghisap lebih kuat ketika ASI yang keluar lebih sedikit.

Disamping itu, menurut penelitian, di dalam ASI terkandung bakteri baik berupa kuman lactobacillus. Kuman lactobacillus merupakan bakteri baik yang member perlindungan pada usus bayi . Kelak bakteri baik ini dapat atau akan melindungi usus bayi dari berbagai macam penyakit yang masuk melalui saluran pencernaan. Jadi, kenapa harus mencekoki bayi dengan susu formula yang bisa jadi tercemar virus, jika sang ibu bisa memproduksi sendiri susu yang jelas-jelas lebih banyak manfaatnya?
More about → Manfaat Menyusui Pada Bayi

Potensi Keberhasilan dan Resiko Program Bayi Tabung

Diposting oleh Unknown on 4 Sep 2012

Bayi tabung adalah suatu teknik proses reproduksi dimana terdapat campur tangan manusia yakni dengan cara mempertemukan sel telur matang dan siap dibuahi dengan sperma di luar tubuh manusia (in vitro fertilization/IVF). Teknik ini menjadi alternative  bagi pasangan suami istri yang begitu mendapatkan momongan tapi sulit hamil. Dan karena untuk menjalani program bayi tabung ini memerlukan biaya yang tak sedikit, dan adakalanya juga menuntut pengorbanan-pengorbanan lainnya baik itu secara fisik maupun psikologis, ,maka ada baiknya sebelum Anda memilih untuk menjalani program bayi tabung ini, terlebih dahulu memahami prosedur, keuntungan, peluang terjadinya kehamilan dan juga resiko yang harus ditanggung selama menjalani program ini. Hal ini penting guna mempermudah dan menambah kesiapan mental, baik itu bagi sang calon ibu maupun calon bapak. 

Bagaimanapun, meski teknologi dan peralatan kedokteran yang dipakai untuk membantu terjadinya kehamilan pada program bayi tabung ini dinilai sudah sangat mutahir, ,namun bukan berarti tanpa kegagalan dan jresiko sama sekali. Ada banyak factor yang menentukan berhasil atau tidaknya program bayi tabung, yang diantaranya adalah usia wanita, cadangan sel telur, lamanya gangguan kesuburan yang dialami pasangan, riwayat ada atau tidaknya kehamilan sebelumnya, derajat kelainan, sarana dan fasilitas teknologi laboratorium, ilmu dan pengalaman yang dimiliki oleh tenaga medis klinik bayi tabung.

Dan dari sekian factor yang menentukan tersebut, factor yang paling penting adalah usia calon ibu. Pada usia kurang dari 30 tahun angka keberhasilannya 35-45 persen, pada usia 31-35 tahun peluang untuk terjadinya kehamilan 30-45 persen, pada usia 36-40 tahun peluang terjadinya kehamilan 25-30 persen dan pada usia lebih dari 40 tahun peluangnya 10-15 persen.

Lantas, apa saja resiko yang mungkin timbul akibat dari program bayi tabung ini, terutama bagi sang calon ibu dan bayinya. Setidaknya ada lima hal yang dapat dicatat di sini yang merupakan resiko umum dari program kbayi tabung ini. Apa saja resikonya?

  1. Terjadinya stimulasi indung telur yang berlebihan dan memungkinkan untuk terjadinya penumpukan cairan di rongga perut yang menimbulkan efek samping berupa rasa kembung, mual-mual, muntah, dan hilangnya selera makan. Tapi dengan beberapa perawatan khusus dan dibantu oleh dokter ahli, biasanya efek samping ini dapat dihindari atau setidaknya dapat diminimalisir.
  2. Saat pengambilan sel telur dengan jarum memiliki resiko yang fatal bila tidak hati-hati dan ditangani oleh dokter yang benar-benar ahli seperti misalnya terjadi pendarahan hebat, infeksi, dan juga kemungkinan mengenai kandung kemih, usus dan pembuluh darah. Tapi, dengan persiapan yang matang dan ditangani oleh dokter yang memang ahlinya, dan juga dengan bantuan teknologi ultrasonografi, keadaaan tersebut diyakpini tak akan terjadi.
  3. Risiko kehamilan kembar lebih dari 2 (dua) akan meningkat dengan banyaknya embrio yang dipindahkan ke dalam rahim.  Hal ini akan memberikan risiko akan persalinan prematur yang memerlukan perawatan lama. Dengan mempertimbangkan usia istri dan pembatasan jumlah embrio yang akan dipindahkan ke dalam rahim dapat mengurangi risiko tersebut.
  4. Tak seperti kehamilan alami yang lebih kuat, kehamilan dari program bayi tabung ini sangat rentan dengan keguguran di luar kandungan. Melalui pemberian hormon dan pemindahan embrio dengan panduan ultrasonografi, keadaan tersebut diharapkan tidak terjadi 
  5. Dan yang terakhir, risiko lain yang timbul dapat berupa biaya yang dikeluarkan, kelelahan fisik, dan stres emosional dalam menyikapi antara harapan dan kenyataan yang terjadi selama mengikuti bayi tabung.

Dari paparan singkat di atas mengenai prosedur, potensi keberhasilan terjadinya kehamilan, dan juga resiko yang mungkin mengintai dari program bayi tabung ini diharapkan pasangan yang sudah bersepakat memutuskan untuk menjalani program bayi tabung, dapat mempermudah dan menambah kesiapan mental, baik itu bagi sang calon ibu maupun calon bapak.
More about → Potensi Keberhasilan dan Resiko Program Bayi Tabung

Kentut dari Vagina Pasca Melahirkan

Diposting oleh Unknown on 11 Jun 2011

Pada banyak kasus, bagi ibu yang baru melahirkan anak pertamanya dan melahirkan secara normal dengan dibantu oleh dokter kandungan atau bidan, setelah masa nifas seringkali sang ibu akan mengalami hal-hal yang tidak pernah dialami ketika sebelum melahirkan yakni seperti, menemukan sisa kotoran BAB pada daerah vagina, atau buang angin melalui vagina tanpa bisa dikontrol. Hal ini tentu saja mengganggu kenyamanan secara psikologis kepada sang ibu, terutama untuk kentut yang tidak bisa di control itu tentu saja akan menimbulkan rasa malu ketika dia sedang bersosialisasi dengan orang lain.

Pertanyannya kemudian adalah:

  1. Apakah kasus ini termasuk malapraktek yang dilakukan oleh dokter atau bidan ketika menangani persalinan sang ibu sehingga sang ibu memiliki efek seperti itu pasca melahirkan?

  2. Langkah apa yang bisa dilakukan untuk menyembuhkan ‘kebiasaan baru’ ini?


Pada persalinan normal, apalagi untuk persalinan anak pertama, dengan kondisi vagina yang masih kencang dan belum lentur, dinding perineum, yakni dinding vagina antara vagina ke anus biasanya juga masih kencang dan kaku. Sehingga pada proses persalinan akan memperlambat turunnya dan keluarnya kepala bayi. Maka untuk kasus seperti ini memang diambil tindakan menggunting daerah tersebut untuk mempermudah persalinan. Setelah persalinan selesai maka akan dilakukan penjahitan untuk menutup kembali daerah yang digunting tersebut.

Pada prosesnya robekan tersebut bisa melebar. Hal ini terjadi karena desakan kepala bayi atau keluarnya bahu bayi, atau ibu yag mengangkat daerah bokong saat bayi keluar, sehingga daerah yang digunting semula hanya sekitar 1-2 cm, bisa melebar menjadi 3 sampai 4 cm, dan arah robekan bisa ke arah anus atau vagina.nah, kemungkinan untuk kasus ibu yang selalu buang angin melalui vagina tanpa bisa dikontrol itu kemungkinan karena arah robekan yang melebar ini ke arah anus dan kemudian mengenai dinding dan otot di daerah tersebut.

Pada proses penyembuhannya bisa langsung sembuh (primer) atau bisa bermasalah (seperti pada kasus di atas). Jadi, untuk kasus di atas kemungkinan penyembuhan tersebut tidak sembuh secara total, sehingga saat ini ada hubungan antara dinding anus dan dinding vagina, yang memang letaknya berdampingan, sehingga menyebabkan kemungkinan terjadinya kasus di atas.

Hal ini tidak dapat dikategorikan malapraktek, karena ini memang resiko dari tindakan dan proses penyembuhannya. Tapi meskipun begitu, bagi ibu-ibu yang mengalami hal ini nggak usah khawatir, karena kasus ini bisa diperbaiki oleh dokter kandungan. Caranya dengan menjahit ulang daerah tersebut. Konsultasikan saja dengan dokter kandungan di kota Anda. Anda dapat menjalani proses perbaikan kapan saja sesuai dengan kesiapan Anda.
More about → Kentut dari Vagina Pasca Melahirkan

4 Manfaat Membedong Bayi

Diposting oleh Unknown on 12 Apr 2011

Ibu-ibu jaman dulu membiasakan untuk membedong bayi yang baru lahir. Hal ini dilakukan konon bertujuan agar kaki bayi tersebut tak berbentuk huruf O ketika besar nanti. Padahal, tujuan itu tidak selamanya tepat karena kaki berleter O tidak melulu disebabkan oleh tidak dibedongnya sang anak ketika masih bayi. Lagipula, kaki bayi yang terlihat seperti melengkung ke dalam adalah hal yang wajar terjadi karena pada saat masih dalam kandungan posisi sang bayi meringkuk. Jadi, dibedong atau tidaknya bayi tidak akan berpengaruh sama sekali pada kondisi kakinya ketika besar nanti.

Namun, meskipun bedong bukanlah untuk mencegah kaki bayi agar tidak membentuk hurup O, bukan berarti tak ada manfaat sama sekali dari kebiasaan membedong ini. Di bawah ini beberapa manfaat yang bisa didapat dari kebiasaan membedong bayi.


  1. Mengatasi refleks kejut dan refleks moro
    Refleks kejut dan refleks moro adalah satu refleks tiba-tiba (menggeragap) yang biasa dialami oleh bayi yang baru lahir. Refleks ini biasanya terjadi saat bayi sedang dalam keadaan tidur lelap. Tiba-tiba saja bayi akan menggeragap dan menangais. Hal ini tentu saja akan mengganggu tidurnya. Dan salah satu untuk meredam efek ini adalah dengan membedongnya. Bayi yang tidur dalam keadaan terbedong ketika mengalami refleks kejut biasanya akan tertidur kembali karena bedong membuatnya merasa seperti asedang dipeluk.

  2. Mempermudah ketika menyusui
    Menyusui bayi yang baru lahir adakalanya memerlukan teknik-teknik tersendiri, apalagi jika ibu yang menyusui merupakan pengalaman pertama kalinya. Seringkali, karena keadaan bayi yang terus bergerak makin menyulitkan sang ibu muda untuk menyusui bayinya tersebut. Dengan membedongnya, bayi akan relativ lebih tenang dan membuat proses belajar menyusui ini lebih lancar.

  3. Untuk menenangkan bayi
    Bayi yang sedang kolik biasanya akan sangat rewel dan susah sekali untuk diam. Dengan membedongnya, membuat sang bayi lebih muda untuk dikendalikan dan ditidurkan.

  4. Mengurangi resiko terjadinya SIDS
    SIDS yang merupakan kepanjangan dari Sudden Infant Death Syndrome merupakan keadaan bayi yang meninggal mendadak akibat posisi bayi yang salah dan sebagainya saat tidur. Dengan membedongnya, bayi akan berada dalam posisi yang benar yakni tidur dalam posisi terlentang, yang pada akhirnya mengurangi resiko bayi mengalami SIDS.
More about → 4 Manfaat Membedong Bayi

Kebiasaan Hisap Jempol si Buah Hati dan Dampaknya terhadap Gigi

Diposting oleh Unknown on 6 Apr 2011

Oleh : drg. Martha Mozartha

Orang tua yang memiliki anak batita atau balita sering kali bertanya-tanya apakah kebiasaan menghisap jari adalah hal yang normal pada anak, dan terkadang bingung bagaimana cara menghentikannya, atau dibiarkan saja hingga berhenti dengan sendirinya seiring anak beranjak besar.

Anak menghisap suatu benda tertentu karena gerakan menghisap adalah salah satu refleks alami bayi. Saat ia bertambah usia, si anak mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan tersendiri saat ia menghisap sesuatu, bisa jempol, jari, lengan, bibir, dot, atau benda lain. Efek menenangkan ini cukup dahsyat rupanya, hingga banyak bayi yang terbiasa menghisap jari terlebih dulu untuk bisa terlelap. Anak juga menghisap untuk mencari kenyamanan saat ia sedang lapar, rewel, takut, atau bosan. Sedikit demi sedikit, kebiasaan menghisap ini akan ditinggalkan oleh si anak, dan umumnya sudah berhenti sama sekali saat anak berusia lebih dari 3 tahun.

Apa masalah yang dapat ditimbulkan oleh kebiasaan menghisap jempol ini?

Menghisap jempol adalah salah satu dari kebiasaan anak yang dapat menyebabkan maloklusi (gigi dan rahang dalam posisi yang tidak normal), kalau hal ini dibiarkan terus hingga anak melewati masa batita. Gigi anak dapat menjadi maju, atau dapat terjadi juga open bite yaitu saat rahang dikatupkan gigi belakang atas dan bawah sudah berkontak namun gigi depan atas dan bawah tetap terbuka.

Gmbr. Anak yang memiliki kebiasaan menghisap jari, terjadi open bite di mana gigi belakang terlihat sudah berkontak namun gigitan gigi depan terbuka, dan lidah terjulur ke depan.

Bahkan terkadang hingga menyebabkan perubahan bentuk langit-langit mulut karena tekanan jempol di daerah tersebut.

Rahang normal idealnya berbentuk U, lebar, dan tidak terlalu dalam, seperti pada gambar di sebelah ini. Bentuk rahang seperti ini didapati pada orang dewasa yang saat kanak-kanak diberi ASI.
Sebaliknya, rahang berbentuk V, sempit, dan dalam seperti pada gambar di sebelah ini umumnya didapat pada orang dewasa yang dulunya diberi susu botol atau terbiasa menghisap jempol.

Kondisi ini juga mencetuskan masalah bicara pada anak, misalnya anak tidak dapat mengucapkan huruf T dan D dengan benar, atau menjulurkan lidah keluar saat bicara atau mengucapkan huruf tertentu.

Umumnya maloklusi tersebut dapat baik dengan sendirinya, bila anak menghentikan kebiasaannya menghisap jari. Namun bila kebiasaan ini berlanjut lebih lama, maka besar kemungkinan di kemudian hari akan diperlukan perawatan orthodontik untuk memperbaiki masalah gigi yang ada.

Kapan kebiasaan menghisap jari mulai menimbulkan masalah?

Anak yang masih memiliki kebiasaan menghisap jari setelah ia berumur 4 tahun dengan intensitas atau frekuensi tinggi cukup beresiko tinggi untuk mengalami masalah gigi atau masalah bicara saat ia dewasa. Ada tiga hal yang paling menentukan tingkat keparahan masalah gigi dan mulut yang ditimbulkan oleh kebiasaan menghisap jari ini, yaitu intensitas, frekuensi dan durasi penghisapan. Tekanan dan posisi jari saat menghisap juga turut mempengaruhi. Menghisap dot juga dapat memberi efek yang sama seperti menghisap jempol, namun sering kali kebiasaan menghisap dot lebih mudah untuk dihentikan.

Gambar : Ilustrasi anak yang memiliki kebiasaan menghisap jempol. Perhatikan jempol yang menghadap ke langit-langit, saat anak melakukan gerakan menghisap jempol tersebut akan memberi tekanan ke arah atas dan gigi depan, dan bagian bawah jempol akan menekan lidah sehingga mendoron gigi bawah dan bibir sedangkan dagu terdesak ke dalam. Akibatnya anak dapat memiliki profil muka yang cembung akibat gigi depan yang maju.

Anak yang terbiasa menghisap jempol atau menghisap dot umumnya lebih besar kemungkinan untuk memiliki wajah yang kurang proporsional saat remaja hingga dewasa, dibandingkan dengan anak yang diberi ASI dalam periode waktu yang cukup lama dan tidak pernah memiliki kebiasaan menghisap jari atau dot.


__________

Hasil copy paste dari:sini

More about → Kebiasaan Hisap Jempol si Buah Hati dan Dampaknya terhadap Gigi

Pseudocyesis; Merasa Hamil Padahal Tidak

Diposting oleh Unknown

Hamil palsu atau dalam bahasa medis disebut dengan istilah pseudocyesis ini adalah satu keadaan di mana seorang wanita yang sebenarnya tidak hamil tapi merasa bahwa dirinya hamil. Gejala-gejala yang dirasakan oleh penderita pseudocyesis ini sendiri memang layaknya seperti orang hamil sungguhan. Tidak menstruasi, mengalami mual-mual (morning sickness), ngidam, membesarnya kelenjar payudara dan bagian perut dan sebagainya.

Meskipun memiliki gejala dan kebiasaan seperti layaknya ibu hamil, para penderita pseudocyesis (dikenal dengan sebutan pseudopregnancy) ini sama sekali tak ada janin di rahimnya, karena memang pada dasarnya dia tidaklah sedang hamil meskipun perutnya kian hari kian gendut seperti layaknya ibu hamil. Dan ketika di USG pun memang dalam rahimnya tidak ada apa-apa. Ini yang membedakan pseudocyesis dengan hamil anggur (Mola hidatidosa), karena untuk ibu yang mengalami hamil anggur, ketika di USG dalam rahimnya ada semacam gelembung-gelembung cairan bening seperti buah anggur atau gelembung udara.

Konon menurut beberapa penelitian, pseudocyesis ini penyebab utamanya adalah masalah emosional dan psikologis, seperti karena keinginan yang kuat untuk hamil, sehingga dirinya merasa mengalami proses kehamilan. Biasanya hal ini terjadi saat ada seseorang didekatnya ada yang sedang hamil. Hal inilah yang kemudian membuat ia seperti tersugesti bahwa dirinya pun sedang hamil.

Salah sebuah penelitian menunjukkan adanya keterkaitan antara pseudocyesis dengan kelenjar pituitary (pusat produksi hormon selama kehamilan). Ketidakseimbangan hormon ini sering dipicu oleh stres dan kecemasan, sehingga dapat menyebabkan perubahan emosi dan psikologis yang mengarah pada kepercayaan atas sesuatu yang sangat diharapkannya. Perempuan yang mengalami kondisi ini sudah seharusnya melakukan konseling karena memang penyebab utamanya adalah soal emosional dan psikologis.
More about → Pseudocyesis; Merasa Hamil Padahal Tidak

Ibu Hamil yang Peminum Ringan dan Dampaknya Pada Janin

Diposting oleh Unknown on 8 Mar 2011

Pada artikel sebelumnya saya pernah menulis bahwa tak ada batas aman untuk mengonsumsi alkohol bagi ibu hamil, dan meski artikel tersebut tak sepenuhnya salah saya ingin memberi satu sudut pandang berbeda dalam hal konsumsi alkohol bagi ibu hamil ini terkait temuan saya baru-baru ini tentang dampak alkohol bagi ibu hamil mengacu pada hasil penelitian yang dilakukan oleh Universitas London yang mengumumkan hasil penelitiannya pada akhir tahun 2007 silam.

Pada saat itu peneliti mengambil responden sebanyak 11.500 anak yang lahir di inggris. Anak-anak tersebut dilaporkan lahir dari ibu yang gemar minum. Peneliti kemudian membagi ibu anak-anak ini dalam beberapa kelompok. Kelompok anti minum alkohol yakni ibu yang tidak minum, tetapi gemar minum, baik sebelum maupun sesudah kehamilan. Peminum ringan, yakni ibu yang minum 1-2 gelas seminggu. Kelompok moderat, yakni sang ibu biasa minum 3-6 gelas seminggu atau 5 gelas dalam satu waktu. Adapun peminum berat yang biasa meminum 7 gelas lebih dalam seminggu.

Dan hasilnya ternyata cukup mengejutkan, yakni ternyata meminum satu hingga dua gelas alkohol selama masa kehamilan, tidak membahayakan janin. Peneliti membuktikannya dengan mengikuti perkembangan anak sampai mereka berumur lima tahun—yang ibunya bisa dikategorikan sebagai peminum ringan. Peneliti tidak menemukan adanya kelainan sikap ataupun masalah kognitif pada anak-anak ini saat dibandingkan dengan anak-anak yang ibunya sama sekali anti minuman keras.

Meski hasil penelitian ini nyata-nyata ditenaatang oleh banyak dokter dan lembaga kesehatan, para peneliti dari Universitas London yang melakukan penelitian ini bersikukuh tidak ada hubungan sebab akibat antara kebiasaan meminum alkohol dengan bahaya kesehatan terhadap janin. Studi sebelumnya yang dilakukan oleh kelompok peneliti yang sama, menemukan bahwa kebiasaan ibu meminum alkohol sedikit selama kehamilan nyatanya tidak membahayakan janin.
More about → Ibu Hamil yang Peminum Ringan dan Dampaknya Pada Janin